Growing investments. Heap of money with seedling.

Masih Mikir Kalau Nabung Bisa Bikin Kaya? Investasi Dong!

Genit.id, Jakarta – Masih ingat dengan peribahasa yang bunyinya, rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya? Semua yang pernah sekolah SD pasti nggak asing lagi dong dengan kalimat yang satu ini. Artinya sederhana saja, kalau mau pandai ya harus rajin belajar, kalau mau kaya ya harus mau hidup hemat. Gimana caranya? Dengan mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, membiasakan diri membeli barang-barang yang harganya miring, dan terakhir, tentu saja menabung. Konon, ketiga hal inilah yang diyakini banyak orang bakal dapat memperbanyak pundi-pundi uang. Sebelum akhirnya jadi kaya. Ya, ibarat pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Tapi, apa iya dengan menabung saja bisa bikin kita jadi kaya?

Faktanya, kondisi ekonomi kita saat ini tidak lagi mendukung pemahaman itu, yang selalu digaungkan para orang tua kita sejak kita masih kecil. Percaya tidak percaya, menabung di bank cuma akan mengikis uang kita lantaran biaya administrasi yang dikeluarkan. Sementara menabung di celengan ayam cuma akan membuat kita berakhir dengan setumpuk uang recehan. Tetap uang, memang. Bisa dipakai jajan. Tapi butuh berapa lama, dan berapa banyak ayam yang harus dikorbankan hingga akhirnya kita bisa mewujudkan mimpi untuk sekedar membeli hadiah untuk orang tua, mengganti smartphone, membeli motor atau mobil baru, atau bahkan rumah baru?

Sekedar informasi, semua orang terkaya di dunia tidak menabung, melainkan berinvestasi. Bahkan, nenek moyang kita dulu juga melakukannya, dengan membeli lahan atau tanah yang kemudian mereka gunakan untuk bersawah, berkebun atau yang lainnya, yang penting memiliki penambahan nilai.

Nah, kalau nenek moyang kita dulu saja tidak mengandalkan tabungan untuk jadi kaya – sebaliknya malah memilih berinvestasi, lantas apa yang membuat kita masih berpikir bahwa menabung itu bisa membuat kita kaya? So, wake up, dan mulailah berinvestasi. Beberapa tips ini mungkin bisa menjadi pegangan.

1. Platform Investasi
Dengan begitu banyaknya perusahaan investasi bodong, alias tanpa izin yang jelas di luar sana, maka hal pertama yang harus kalian ingat sebelum mulai berinvestasi adalah memastikan bahwa platform investasi itu punya lisensi resmi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Dengan begitu, kalian sebagai investor bisa lebih memahami seberapa besar potensi resiko yang mungkin muncul, bagaimana prosedurnya, dan apa saja yang bisa kalian dapat setelah berinvestasi nantinya.

2. Risiko
Setiap investasi selalu disertai dengan unsur-unsur risiko. Oleh sebab itu, memahami dan mempertimbangkan faktor-faktor risiko (risiko likuiditas, risiko inflasi, risiko efek dan lainnya) yang mungkin muncul dari investasi yang dipilih adalah penting bagi calon investor. Dengan memahami risiko investasi, kalian bisa lebih sukses dalam berinvestasi.

3. Lama Investasi
Pada dasarnya, ada tiga jangka waktu dalam berinvestasi, yakni investasi jangka pendek, investasi jangka menengah, dan investasi jangka panjang. Nah, masing-masing investasi ini punya ketentuan dan kekurangan/kelebihan masing-masing, jadi pahami terlebih dahulu ya sebelum memutuskan.

4. Instrumen Investasi
Ada banyak instrumen investasi di luar sana, mulai dari instrumen emas, properti, saham, valuta asing hingga reksadana. Reksadana sendiri merupakan bentuk inventasi dimana dana atau modal dari sekelompok investor dikumpulkan untuk dikelola oleh seorang manajer investasi dalam bentuk portofolio efek (saham, obligasi, pasar uang dan lain-lain). Investasi ini terbilang tidak sulit dan dapat dimiliki oleh siapa pun. Nggak cuma itu, berinvestasi di reksadana juga tidak memerlukan keahlian investasi ataupun modal yang besar.

Di Bareksa misalnya, kalian bisa mulai berinvestasi dengan hanya menyisihkan uang Rp100.000 dan memilih antara reksadana regular atau syariah. Dari segi risiko, investasi jenis ini terbilang rendah karena dapat diperjualbelikan dan dicairkan setiap hari.

Tak hanya itu, seiring dengan kemajuan teknologi, pembelian reksadana bahkan bisa lebih mudah dan praktis, yakni melalui apa yang dipanggil dompet elektronik (e-wallet). Nah, DOKU dalam hal ini adalah salah satu platform yang menyediakan itu.

5. Mulai dari yang kecil
Kebanyakan orang gagal berinvestasi karena minim pengalaman, sementara ia langsung mengalokasikan dana yang besar hanya untuk satu instrumen. Alhasil jangankan beruntung, yang ada dana yang dimiliki malah habis terkikis. Jadi, mulai saja dari yang kecil dulu ya, dan jangan gampang tergur oleh iming-iming return yang besar. Meski dengan cara ini memang bisa lebih cepat jadi kaya sih. Tapi percayalah, cuma mie yang instan.

6. Jangan Taruh Dana di Satu Instrumen
Mengalokasikan dana yang besar hanya untuk satu instrumen bukanlah pilihan tepat jika kalian ingin sukses berinvestasi, dan apalagi baru mau mulai. Karena apa? Bahkan seorang Warren Buffet pun menggunakan metode diversifikasi saat berinvestasi. Dimana ia berinvestasi di tempat yang berbeda-beda, yang dianggapnya memang memiliki potensi.

Nah, sudah siap berinvestasi? Nggak masih mikir kalau menabung bisa bikin cepat kaya kan?

Hey there!

Close
of

Processing files…