Ngalahin Patah Hati, Ini Alasannya Kenapa Luka Teriris Kertas Perihnya Minta Ampun

Genit.id, Jakarta – Sebagian besar dari kalian pasti pernah merasakan yang namanya terluka akibat irisan kertas. Paper cut, demikian kita menyebutnya. Jika ya, pasti tahu donk bagaimana rasanya. Ya, perihnya minta ampun. Bahkan mungkin sama perihnya dengan patah hati. Padahal, luka akibat irisan kertas itu pun biasanya tidak bisa dikatakan dalam, karena hanya sekelebatan saja. Tapi kenapa bisa seperih itu?

Well, usut punya usut nih, ada penjelasan ilmiah dibalik itu. Penyebabnya tak lain karena saraf yang kita miliki. Ya, jari kita yang enerjik ini memiliki nosireseptor atau reseptor ujung saraf bebas yang lebih banyak per milimeter perseginya dibandingkan sisa permukaan tubuh lainnya. Banyaknya jumlah nosireseptor inilah yang kemudian membuat jari menjadi lebih sensitif dan juga bisa digunakan untuk merasakan banyak benda. Kekurangannya, karena hal ini juga jari akan terasa lebih nyeri jika terkena goresan, termasuk yang disebabkan oleh kertas.

Dalam hal ini, kertas yang memiliki tepian yang cukup tajam, meskipun dapat merobek kulit namun terlalu fleksibel dan tak cukup tajam untuk menyayat daging dalam-dalam. Itu sebabnya, kertas pada akhirnya hanya menggores jari layaknya gergaji tumpul. Bahaya? Bisa dibilang begitu.

Menurut penelitian para ilmuwan Scientific American, luka teriris kertas itu sebenarnya bukan hanya luka kecil seperti yang terlihat. Lebih dari itu, ini merupakan luka bergerigi yang memotong tepat melalui kumpulan sel-sel saraf yang paling sensitif. Meski tak terlihat mengerikan, namun luka akibat irisan kertas biasanya akan terasa lebih lama karena sering kali hanya mengeluarkan sedikit darah atau bahkan sama sekali tidak mengeluarkan darah. Jadi, ujung saraf yang terluka akan terbuka begitu saja. Nah, bayangkan jika luka itu kemudian tertarik dan menegang lantaran kita harus senantiasa menggunakan jari untuk beraktivitas. Perihnya maksimal deh pokoknya.

Penjelasan serupa diberikan LiveScience, yang menyebut bahwa kertas tidak mengiris terlalu dalam, namun hanya membuat keadaan lebih buruk pada permukaan, di mana reseptor nyeri yang mengirimkan jenis paling tajam dari rasa sakit biasanya terkonsentrasi.

Mengacu pada fakta ini, sepertinya tidak berlebihan jika kita lebih berhati-hati dalam menangani kertas, khususnya agar tidak terluka. Bahkan, menggunakan pelindung layaknya sarung tangan mungkin bisa menjadi opsi untuk melindugi diri. Melindungi saraf-saraf kita. Yah, seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan.

Hey there!

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…