Cerita Dibalik Munculnya Istilah “Kids Zaman Now”

Dari mana datangnya istilah “Kids jaman now”? Mungkin demikian pertanyaan sebagian dari kita. Apalagi sekarang, ketika istilah ini seperti telah menjadi bahasa sehari-hari. Sebentar-sebentar kids jaman now, sebentar-sebentar kids jaman now. Pendek kata, viral lah, khususnya sepanjang tahun 2017 lalu.

Ini ditandai dengan banyaknya warganet yang menulis status dan berbagai postingan yang menyinggung tentang kids jaman now. Apalagi anak-anak remaja. Jumlahnya tidak sedikit dan bahkan membludak, memenuhi berbagai status di sosial media. Mulai dari Facebook, Instagram hingga Twitter.

Lantas, apa sih sebenarnya kids jaman now itu, dan dari mana datangnya?

So pasti bukan datang begitu saja, apalagi jatuh dari langit. Usut punya usut, ternyata istilah yang hingga kini makin sering digunakan itu pertama kali ditemukan di sebuah web, ketika  diunggah oleh sebuah akun yang mengaku-ngaku sebagai Seto Mulyadi. Seto Mulyadi sendiri, seperti diketahui, merupakan pemerhati dan psikolog anak yang juga menjabat sebagai ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia.

Sejak saat itu, perlahan tapi pasti, istilah kids jaman now, booming.

Istilah kids jaman now sendiri sebenarnya merupakan guyonan untuk menyikapi kelakuan aneh dan tidak wajar dari anak-anak sekarang, yang sayangnya, justru dianggap biasa oleh mereka.

Secara etimologi, Kids jaman now terdiri dari tiga suku kata, kids, jaman, dan now. ‘Kids’ dan ‘Now’ adalah kata yang berasal bahasa Inggris. Kids memiliki arti anak-anak,  sementara Now adalah sekarang. Jaman sendiri, ya jaman, atau masa.  Pendek kata, anak jaman sekarang lah. Nah, yang membuatnya terdengar aneh adalah sisipan kata jaman di antara kedua kata Inggris tersebut.

Kata jaman sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Indonesia, tapi penulisannya tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ini lantaran di dalam kamus tersebut tidak ditemui kata ‘jaman’, melainkan ‘zaman’. Dalam KBBI, zaman mempunyai arti jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu; masa.

Tapi ya, inilah hebatnya teknologi, atau dalam hal ini internet. Kalimat yang awalnya terdengar aneh, “kids jaman now”, nyatanya malah menjadi viral. Beberapa istilah lain bahkan muncul karenanya, mulai dari Daddy zaman now, santri zaman now dan sebagainya. Singkat kata, ini nyaris menjadi istilah baru yang dikenal dan digunakan oleb hampir semua kalangan.

Ada banyak hal yang menandai popularitas istilah “kids zaman now”. Bukan hanya penggunaan kalimat ini, yang begitu marak di media sosial, beragam meme kocak pun turut muncul untuk menandai kepopulerannya. Belum lagi ditambah dengan kian seringnya portal erita menggunakan istilah ini dalam tajuk berita yang dibuatnya. Ambil contoh, “5 kelakukan kids zaman now ini bikin geleng kepala”, “Kelakukan nyeleneh kids zaman now saat patah hati” dan sebagainya.

Saking populernya, istilah kids zaman now bahkan sampai membuat pemerintah tak bisa tinggal diam. Terbukti kala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) ikut berceloteh tentang ini.

Dalam akun Instagramnya, Kemdikbud bahkan mengulas soal penggunaan kata kids jaman now ini. Yang pertama adalah terkait penggunaan kata itu sendiri, yang dari segi ejaan awalnya dinilai kurang tepat.

Dan nyatanya, Indonesia juga bukan satu-satunya negara yang terkena virus kids zaman now.  Viralnya sebutan ini disebut-sebut juga  terjadi di sejumlah negara, tak terkecuali Amerika Serikat. Bedanya,  masyarakat Amerika Serikat menyebut “kid zaman now” dengan istilah “the dumbest generation” atau generasi paling bodoh.

Hal itu disampaikan pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati. Ia mengatakan, kekhawatiran fenomena ‘kid zaman now’ yang berperilaku negatif juga menjadi perhatian negara lain seperti Amerika (Serikat). Bahkan mereka menyebutnya sebagai generasi paling bodoh yang pernah ada.

Namun kekhawatiran itu tidak dibiarkan begitu saja oleh pemerintah Amerika Serikat. Mereka segera mengubah pola asuh anak yang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini karena ’the dumbest generation’ lahir di tengah paparan teknologi yang sulit dibendung.

Nah, langkah ini bukannya tidak mungkin ditiru pula di Indonesia. Bagaimanapun, pola asuh orangtua yang ingin disebut modern dan keren dengan melepaskan kontrol pada anaknya menjadi kontributor terbesar dalam melahirkan generasi ini, sehingga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teknologi. Pada akhirnya, teknologi tak ubahnya pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menguntungkan, di sisi lain sebaliknya. Kamu pilih yang mana?

Hey there!

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…