Pictures circling around Pacific Islander woman's head

5 Wanita Ini Buktikan Bahwa Teknologi Bukan Cuma Milik Kaum Pria

Banyak yang bilang, dunia teknologi identik dengan pria. Namun nyatanya, semua pemikiran itu sudah tidak relevan lagi di era digital seperti sekaramg ini. Ini terbukti dengan tak sedikitnya wanita yang telah unjuk gigi dalam memimpin, bahkan  membuat sebuah perusahaan aplikasi. Tak hanya itu, mereka bahkan berhasil mengguncang ranah teknologi, khususnya di tahun 2017 ini.

Nah, pada kesempatan kali ini tim Genit.id akan mengungkap 5 figur wanita yang sukses mengguncang ranah teknologi di tahun 2017 ini, seperti yang telah dirangkum dari laman Tech Crunch. Siapa saja mereka?

Ankiti Bose

Karir Ankiti Bose dimulai sebagai seorang konsultan di McKinsey selama dua tahun. Setelah itu, dia memilih untuk menjadi seorang analis di perusahaan Sequola, yang bermarkas di India. Bose memilih untuk membanting stir dan memulai peruntungannya untuk menjadi seorang pebisnis kala menjadi co-founder sebuah marketplace bernama Zilingo.

Zilingo sendiri merupakan sebuah situs yang membawa produk offline ke ranah online. Tentu saja, hal ini akan membantu baik para calon pembeli dan penjual, untuk mencari dan menjual barang yang mereka inginkan.

Dalam beberapa tahun, usaha yang dilakukan Bose berbuah manis. Zilingo kini sudah memiliki pendanaan hingga USD 28 juta atau sekitar Rp 380 miliar.

Zilingo sendiri sudah banyak digunakan oleh wanita di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Singapura, dan juga di Indonesia.

Whitney Wolfe Hard

Aplikasi kencan online di 2017 merupakan aplikasi yang paling banyak digunakan oleh para pengguna smartphone di seluruh dunia. Salah satunya adalah Bumble, sebuah aplikasi kencan online khusus wanita, yang dikembangkan oleh Whitney Wolfe Hard.

Whitney sendiri sebenarnya merupakan salah satu co-founder dari Tinder. Namun, dikarenakan dirinya telah mengklaim bahwa dia telah mengalami pelecehan seksual dan diskriminasi di Tinder, dia memutuskan untuk hengkang.

Bumble kini memiliki lebih dari 22 juta pengguna terdaftar dan diperkirakan bisa menghasilkan penjualan lebih dari US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,36 triliun hanya pada tahun ini saja.

Aplikasi ini juga terus meningkatkan kualitas layanannya, salah satu yang terbaru dengan mengajak para pengguna untuk mencari kolega dan calon mentor, sehingga tidak hanya terbatas pada teman kencan saja.

Jini Kim

Memiliki Adik dengan autisme yang menggantungkan hidup pada Medicaid merupakan sebuah pengalaman yang sangat berat. Berangkat dari pengalaman pahit inilah, Jini Kim memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan analisis kesehatan bernama Nuna pada 2010 silam.

Kepercayaan dirinya muncul dikarenakan ia sangat memahami keterbatasan sistem yang ada di dunia kesehatan, terutama autisme. Terlebih lagi, dia pernah menjabat sebagai Product Manager di Google Health.

Akan tetapi, kedua hal itu tidak lantas memudahkan dirinya untuk mendapatkan investor. Semua berubah kala Kim dipanggil oleh White House untuk membantu menjalankan Healthcare.gov pada akhir 2013, yang membawanya tampil di sampul Time.

Pada akhirnya, di 2014, Nuna mendapatkan kucuran dana untuk pertama kalinya. Setelah itu, perusahaan juga mendapatkan dana sebesar USD 90 juta atau sekitar Rp 1,22 triliun dari Kleiner Perkins Caufield & Byers.

Jini Kim

Memiliki Adik dengan autisme yang menggantungkan hidup pada Medicaid merupakan sebuah pengalaman yang sangat berat. Berangkat dari pengalaman pahit inilah, Jini Kim memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan analisis kesehatan bernama Nuna pada 2010 silam.

Kepercayaan dirinya muncul dikarenakan ia sangat memahami keterbatasan sistem yang ada di dunia kesehatan, terutama autisme. Terlebih lagi, dia pernah menjabat sebagai Product Manager di Google Health.

Akan tetapi, kedua hal itu tidak lantas memudahkan dirinya untuk mendapatkan investor. Semua berubah kala Kim dipanggil oleh White House untuk membantu menjalankan Healthcare.gov pada akhir 2013, yang membawanya tampil di sampul Time.

Pada akhirnya, di 2014, Nuna mendapatkan kucuran dana untuk pertama kalinya. Setelah itu, perusahaan juga mendapatkan dana sebesar USD 90 juta atau sekitar Rp 1,22 triliun dari Kleiner Perkins Caufield & Byers.

Jean Liu

Jean Liu merupakan salah satu sosok penting di salah satu aplikasi ride-sharing populer asal Tiongkok, Didi Chuxing. Dia menjabat sebagai Presiden di perusahaan tersebut, setelah 3 tahun menjadi COO di perusahaan yang sama.

Liu beberapa kali memiliki peran yang penting dalam pengembangan Didi. Salah satunya kala ‘menaklukkan’ Uber di Tiongkok dan membawa pendanaan terbesar ke perusahaan tersebut.

Sebagai informasi, nak dari pendiri Lenovo Liu Chianzh itu berhasil memboyong pendanaan dari beberapa perusahaan raksasa dunia, seperti Apple, Alibaba Group dan juga Tencent Holdings. Bahkan, belum laman ini Didi baru saja mendapatkan pendanaan segar senilai USD 4 miliar atau sekitar Rp 54,3 triliun. Jika ditotal, nilai investasi yang dimiliki  Didi kini mencapai USD 56 miliar atau sekitar Rp 760,7 triliun.

Susan Fowler

Di antara sejumlah pemimpin teknologi wanita lain, Susan Fowler menjadi salah satu yang paling banyak menyita perhatian publik internasional pada tahun ini. Hal ini dikarenakan wanita yang menjabat sebagai Software engineer di Uber ini membuka cerita tentang berbagai pelecehan seksual yang terjadi di perusahaan tersebut. Dia mempublikasikan ceritanya di sebuah blog pribadi. Akibatnya, Uber dan para industri startup lainnya menjadi sorotan masyarakat dunia.

Pengakuan Fowler memperpanjang laporan tentang berbagai kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi di Silicon Valley. Seksisme sejak lama telah menjadi masalah umum di sana, tapi tak pernah terselesaikan.

Fowler kini dikenal sebagai sosok yang memengaruhi perubahan pada Uber dan perusahaan teknologi di Silicon Valley. Hal ini ditunjukkannya  dalam menangani kasus pelecehan seksual. Ia juga telah sepakat dengan sebuah perusahaan film untuk mengangkat kisahnya saat bekerja di Uber. [NC/IF]

 

Sumber :

Hey there!

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…