Baterai Li-Ion Masih Jadi Isu Besar di Bandara Eropa

Kasus meledaknya Galaxy Note 7 di sepanjang tahun 2016 lalu sepertinya masih menjadi kekhawatiran tersendiri di pihak otoritas bandara. Terbukti, mereka kerap mewanti-wanti para penumpangnya untuk tidak membawa perangkat yang menggunakan baterai Li-Ion, seperti halnya yang digunakan Galaxy Note 7.

Kasus meledaknya Galaxy Note 7 sendiri sebenarnya sudah dianggap selesai, setelah Samsung merilis hasil penyelidikannya yang mengungkap penyebab dari mudah meledaknya phablet canggih tersebut.

Pabrikan asal Korea Selatan itu bahkan sudah “mendaur ulang” Galaxy Note 7 dan merilisnya kembali dengan nama Galaxy Note FE, seraya memastikan bahwa perangkat buatannya itu ‘sudah aman’.

Namun pihak otoritas penerbangan Eropa ternyata masih belum sepenuhnya percaya, dan memberi peringatan kejadian itu dapat kembali terulang. Memang peringatan ini tidak hanya ditujukan pada Galaxy Note 7 aka Note FE, melainkan pada perangkat yang menggunakan baterai Lithium-Ion (Li-Ion).

Seperti dikutip dari laman Ubergizmo, pihak otoritas penerbangan Eropa telah mengeluarkan peringatan kepada calon penumpang mereka akan bahaya baterai Lithium-Ion (Li-Ion) selama penerbangan.

Alasannya, karena sebagian besar perangkat elektronik yang ada di pasaran masih menggunakan baterai Li-Ion. Beberapa diantaranya adalah perangkat smartphone dan juga perangkat laptop serta tablet.

Pihak otoritas penerbangan mengingatkan penumpang agar tidak menyimpan laptop di dalam bagasi. Serta, selama masa penerbangan, para penumpang diimbau untuk tidak menyalakan perangkat tersebut.

Peraturan ini sebenarnya bukanlah peraturan yang baru. Akan tetapi, pihak otoritas penerbangan Eropa nampaknya tak ingin “kecolongan”, terutama menjelang masa liburan Natal dan Tahun Baru kali ini. [NC/IF]

Hey there!

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…